Senin, 08 Oktober 2012



Tersingkir dari penyisihan grup PPD 2014 tanpa poin, Terperosok ke peringkat 168 FIFA (Bulan September 2012), menurunnya dukungan supporter terhadap timnas….. adalah sebagian catatan merah yang ditorehkan sepakbola Indonesia setahun terakhir.
PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) sebagai organisai induk sepakbola di tanah air, oleh banyak pihak, dianggap paling bertanggung jawab terhadap catatan buruk itu.
Sejak era kepemimpinan Nurdin Halid, banyak pihak yang menganggap PSSI mmang sudah bermasalah, mulai dari isu pengaturan skor, politisasi sepakbola nasional sampai korupsi yang dilakukan pengurus PSSI. Puncaknya adalah desakan dari klub-klub dan masyarakat umum agar Nurdin cs. segera dilengserkan.
Akhirnya, melalui Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang digelar di Solo 9 Juli 2011, Nurdin Halid berhasil diturunkan. Sebagai gantinya  Prof. Djohar Arifin Husin terpilih untuk memimpin PSSI.
Masyarakat sempat menaruh harapan besar pada Djohar. Banyak janji yang diungkapkan oleh Djohar sesaat setelah ia terpilih. Salah satunya adalah membenahi kompetisi agar mampu berjalan lebih profesional.
Namun di tengah-tengah harapan besar para pecinta sepak bola tanah air, Djohar justru mengeluarkan keputusan-keputusan kontroversial. Empat hari setelah terpilih, Djohar secara mengejutkan memecat pelatih Timnas, Alfred Riedl. Alasannya, pelatih asal Austria tersebut tidak pernah menandatangani kontrak resmi dengan PSSI. Keputusan ini sontak dikecam berbagai kalangan. Riedl menilai kalau dirinya disingkirkan karena dianggap bagian dari pengurus lama.
Sebagai pengganti Riedl, Djohar menunjuk mantan pelatih PSM Makassar, Wim Rijsbergen. Pelatih asal Belanda itu diberi tanggung jawab untuk menangani Bambang Pamungkas dkk.
Kehadiran Wim di tubuh timnas kembali diwarnai kontoversi luas usai Timnas menelan kekalahan dari Bahrain pada babak penyisihan PPD 2014. Sikap Wim yang terkesan menyalahkan pemain sempat membuat suasana di Timnas memanas. Beberapa pemain bahkan mengancam mogok bila masih ditangani Wim.
Kemampuan Wim dalam meramu strategi juga jadi sorotan. Ini setelah Indonesia menelan tiga kekalahan beruntun di penyisihan Grup E PPD 2014, masing-masing saat melawan tuan rumah Iran (0-3), Bahrain (0-2), dan lawan Qatar (2-3).
Akhirnya, PSSI memang mengganti Wim –pasca Wim Timnas ditangani oleh Nil Maizar- namun permainan menawan Timnas seperti yang diperlihatkan dalam AFF dibawah Riedl tidak lagi terlihat. Dalam beberapa ajang internasional dan persahabatan Timnas nyaris selalu mengalami kekalahan.
Salah satu penyebabnya adalah pemilihan pemain-pemain baru Timnas yang hanya berasal dari kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI). Sementara pemain-pemain yang sudah mempunyai jam terbang lebih tinggi –hampir seluruhnya bermain di klub-klub Liga Super Indonesia (LSI)- tidak masuk skuad Timnas, karena PSSI Djohar tidak mengakui LSI.


Selain memecat Riedl, di awal masa kepemimpinannya Djohar telah berani mengambil langkah paling kontroversial, yaitu mendukung liga baru yang digagas oleh pengusaha-politisi Arifin Panigoro (AP), dengan nama Liga Primer Indonesia. Semula LPI dibentuk sebagai tandingan dari LSI Nurdin Halid yang dinilai penuh masalah.
Sayangnya, LPI yang konon lebih bersih itu, berakhir mengenaskan. Setelah AP berhasil mendapatkan posisi penting di PSSI (dengan meletakkan Djohar Arifin Husin, koleganya sebagai ketua), liga bentukan AP pun berakhir begitu saja hanya dalam setengah putaran. Persebaya 1927 yang menjadi pemuncak klasemen tidak mendapatkan gelar juara liga.
Pasca PSSI baru terbentuk dan kompetisi siap bergulir, muncullah masalah. PSSI dan klub memiliki penafsiran berbeda terhadap status klub-klub LPI. Awalnya, ada agenda bahwa klub-klub ini dirangkul. PSSI menerjemahkannya dengan menggabungkan 6 klub sisa LPI ke dalam kompetisi. Sehingga jumlah klub yang akan berlaga di kompetisi menjadi 24 dari sebelumnya yang berjumlah 18 klub.
Masalah pun muncul. Klub-klub LSI kebanyakan tidak mau menerima 6 klub tadi. Mereka berdalih, jika caranya seperti ini, PSSI telah melanggar statuta yang dibuat mereka sendiri (dibuat saat Nurdin Halid masih “memerintah”). Rasanya janggal jika melihat sebuah klub yang tidak ada dalam kompetisi, langsung masuk ke divisi teratas. Sementara, klub-klub lain yang ada dalam kompetisi tadi, berjuang mati-matian untuk lolos ke divisi tertinggi.
Kegagalan PSSI meredam protes dari klub-klub ini, ditunjang oleh beberapa faktor lain. Misalnya, PSSI melegalkan Persija versi LPI yang berbeda dengan Persija versi LSI. Kasus yang sama juga berlaku untuk Arema yang terbelah menjadi Arema LPI dan Arema LSI.
Maka, pada musim kompetisi 2012-2013. Liga di Indonesia terpecah menjadi dua kubu: Liga Primer Indonesia yang diakui PSSI Djohar, dan Liga Super Indonesia, yang dianggap illegal.
Bukan hanya liga, beberapa klub peserta kompetisi pun ikut terpecah belah. Arema, Persija, PSMS Medan, Persebaya (Persebaya DU-LSI dan Persebaya 1927), Persib (Persib LSI dan Bandung FC) serta klub-klub lain.
Klub-klub di ISL (Indonesia Super League) pun tidak mau tinggal diam. Karena merasa terzhalimi oleh PSSI di bawah kepemimpinan Djohar, beberapa Pengprov yang tergabung dalam Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) menggelar KLB di Ancol. Hasilnya. Terpilihlah La Nyalla Mattaliti, mantan anggota exxco PSSI Djohar, sebagai ketua KPSI (Kubu ini juga beranggapan sebagai PSSI yang sah).


Tidak berhenti di situ, KPSI –atau PSSI KLB- kemudian juga membentuk Timnas sendiri. Sebagai pelatih, ditunjuklah kembali Alfred Riedl.
Kisruh yang melanda sepakbola Indonesia akhirnya sampai ke perwakilan FIFA di AFC. AFC kemudian membentuk suatu komisi bersama atau Joint Comittee (JC) yang beranggotakan wakil dari PSSI Djohar dan PSSI La Nyalla.
JC direncanakan akan kembali menggelar KLB pada bulan November nanti. Padahal beberapa kompetisi internasional sudah menanti Timnas dalam waktu dekat. Sebut saja Piala AFF yang akan dimulai November 2012 di Malaysia dan Thailand.
Kita berharap, saat gelaran penuh gengsi itu dimulai, kisruh dan perpecahan yang dialami sepakbola Indonesia telah dapat diselesaikan dengan baik. Tapi kalau tidak….
Timnas yang mana yang akan mewakili Indonesia?
Lalu bagaimana sepakbola Indonesia mau berprestasi, kalau seperti ini?

Selasa, 02 Oktober 2012




Untuk ukuran abege di zaman millennium ini, namanya tergolong langka: PANGERAN DIPONEGORO. Ketika memperkenalkan diri di depan kelas, dengan bangga dia mengaku  masih keturunan dari pahlawan nasional yang selalu berpakaian serba putih dan membawa keris itu.
Tapi yang bikin semua orang bingung, Pangeran Diponegoro ngotot minta dipanggil dengan nama lengkapnya. Dia akan langsung sewot jika namanya yang agung itu dipotong-potong.
Dalam sekejap Pangeran Diponegoro sukses menjadi selebritis paling terkenal di sekolah. Bodinya yang super jangkung ( lebih dari dari dua meter) begitu mudah dikenali. Apalagi wajahnya yang masuk kategori bermutu alias bermuka tua, tampak sangar dengan jenggot panjang yang cuma berjumlah tiga helai.
Konon katanya, tiga jenggot istimewa itu tumbuh sehelai setiap lima tahun sekali. Dan konon katanya lagi, jenggot yang keempat direncanakan tumbuh tiga tahun lagi, yaitu saat Pangeran Diponegoro genap berusia dua puluh tahun.
Terkenalnya Pangeran Diponegoro bukan cuma karena penampilan fisiknya, tapi karena diam-diam sang pangeran naksir sama Siti Hilton, cewek blasteran Amrik-Betawi yang imut kiyut dan selalu rangking satu itu.
***
Pagi itu wajah Cathy (panggilan kerennya Siti Hilton) tampak penuh percaya diri. Dia yakin semester ini akan kembali merebut scudetto kelas. Dan liburan nanti, Dad akan mengajak dia dan Enyak jalan-jalan ke Gedung Putih. Sudah lama Cathy pengin ngelihat langsung Mister Obama. Dan liburan ini keinginannya itu harus terwujud.
Alhasil, waktu Cathy  melihat sepucuk surat di mejanya, dia cuma cuek-cuk aja. Pasti surat kagak penting, dari salah satu fans aye yang kagak penting, gumam Cathy.
Beberapa saat kemudian, Cathy sudah nggak ingat lagi sama surat itu. Seluruh konsentrasinya tertuju pada lembar soal di tangan. Semua lancar. 99 persen pertanyaan berhasil dijawabnya tanpa kesulitan. Dia jadi tambah yakin bakal kembali merebut rangking pertama.
Begitu bel istirahat berbunyi, sebuah senyuman terukir manis di bibir Cathy. Tapi saat melangkah ke luar , senyum itu langsung lenyap. Dilihatnya Pangeran Diponegoro sudah berdiri menanti.
“Bagaimana soalnya, Dik Siti?” tanya Pangeran Diponegoro.
Emosi Cathy tersulut mendengar dirinya dipanggil dengan panggilan yang dibencinya. “Heh! Kalo sekali lagi elo panggil gue kayak barusan, gue ganti nama elo jadi Jenderal De Kock, Mau?”
“Lho ya mbok jangan gitu! Lha wong Jenderal De Kock itu musuh bebuyutannya Tuanku Pangeran Diponegoro, kok… Lha saya ini kan masih….”
“Aaah… Udah-udah! Ngapain lo di sini, ngalangin jalan gue?” potong Cathy dengan sadisnya.
“Anu. Saya mau nanaya gimana tanggapan Dik Cathy tentang surat dari saya tadi?”
“Ooo, itu surat dari Kangmas Pangeran Diponegoro, tho?” tanya Cathy, kali ini dengan gaya paling imut.
Sang Pangeran sampai melongo saking terpesonanya dengan gaya bicara Sang Ratu pujaan hati. “Iya, itu saya tulis dengan sepenuh jiwa, lho!”
Cathy manggut-manggut. “Romantis banget lho, Mas.”
Pangeran Diponegoro merasa tiba-tiba dirinya bisa melayang. Jenggot  di dagunya yang cuma berjumlah tiga helai itu berdiri towew-towew…
“Tapi, Mas….”
Sang Pangeran berhenti mendadak – masih merasa di udara.
“Kayaknya tadi waktu nyerahin soal, surat dari Kangmas Pangeran Diponegoro juga ikut kebawa, deh…..”
Gedebug! Sang Pangeran jatuh dengan sukses.
***
Keesoakn harinya, sebelum para siswa pulang, Pak Samsul Budi Yuwono alias Pak eSBeYe, yang menjabat kepala sekolah dua periode, masuk ke kelas Cathy. Belum apa-apa Pangeran Diponegoro sudah berkeringat dingin.
“Anak-anak yang saya banggakan!” Pak eSBeYe menyapa penuh wibawa.
“Perlu saya sampaikan bahwa sekolah kita tidak melarang jika ada yang saling menyukai atau berpacaran. Tapi, kalian harus ingat bahwa tugas utama kalian adalah belajar. Saya tidak mau jika karena urusan pacaran membuat kalian lupa belajar dan berakibat pada menurunnya prestasi kalian….”
Pangeran Diponegoro bertambah pucat. Sementara Cathy cuma senyum-senyum menanti kemenangan.
“Kalian boleh pacaran, asal hal itu bisa memotivasi untuk belajar dan berprestasi. Kemarin saya mendapati sepucuk surat dari seorang siswa kepada siswi temannya di kelas ini….”
Spontan seisi kelas menjadi ribut. Anak-anak saling bertanya satu sama lain.
“Surat apaan, Pak?”
“Surat cinta ya, Pak?”
“Dari siapa, Pak?”
“Buat siapa, Pak?”
Pak eSBeYe sampai harus berjuang mati-matian untuk menenangkan situasi. “Tenang! Tenang!”
Akhirnya anak-anak mulai tenang. Cuma Pangeran Diponegoro seorang yang nggak bisa tenang. Di tempatnya, dia mengkeret sendirian. Jenggot antik tiga helainya layu seperti kurang nutrisi.
“Ehm-ehm1” Pak eSBeYe berdehem. “Saya tidak akan menyebut nama yang bersangkutan.”
“Huuuu…..!” sorak anak-anak kompak. Pangeran Diponegoro bisa bernafas lebih tenang sekarang. Sementara Cathy manyun, karena kecewa.
“Semula saya memang bermaksud menegur yang bersangkutan di depan kelas. Tapi ternyata, setelah melihat hasil ujian kemarin, yang bersangkutan berhasil meraih nilai tertinggi di kelas ini….”
Cathy nggak terima. Bukan cuma karena Pangeran Diponegoro lolos dari kemarahan Pak eSBeYe, tapi juga karena ternyata sang Pengeran bisa mengalahkannya. Cathy nggak rela. Kalau hal ini dibiarkan, mimpinya untuk bisa berfoto di atas obor patung Liberty terancam berantakan.
“No, Way!”
***
Bagh-bugh…. Bagh-bugh!
Terjadi keributan di kamar Cathy.
Si imut kiyut sedang melampiaskan kemarahannya pada bantal gulingnya yang nggak punya dosa. Biarpun sudah kelelahan, Cathy terus saja melanjutkan aksi smack down-nya. Aksinya baru berhenti saat lengkingan jacko dari ponselnya ngasih tau ada pesan masuk.
Sambil ngos-ngosan Cathy meraih ponsel. Alisnya terangkat saat melihat nomor yang tidak dikenalnya. Ia buka pesan itu.
“Maaf, dik Cathy, atas kejadian kmaren. Aq g b’mksd bwt u marah. Aq cm mw b’tmn. Met b’lajar z! PANGERAN DIPONEGORO”
Amarah Cathy yang sesaat lalu sempat turun, sekarang malah naik seratus kali lipat. Dengan penuh emosi dibalasnya sms dari sang Pangeran.
“PANGERAN GADUNGAN! DENGER! GW G MW TRIMA MAAF LO. GW G MW JD TMN LO. N LO G USH NYURU GW B’AJAR COZ GW PASTI RANKING I. G DA YG BS NGALAIN GW T’MASUK LO.”
Tidak lama, Pangeran Diponegoro kembali mengirim balasan.
“Org Bijak B’kata: Orang Bijak adalah mereka yg PD berada di depan, tp tidak minder jika harus berada di belakang.”
Emosi Cathy mencapai puncaknya. Dimatikannya hape yang nggak bersalah itu, lalu dia kembali menghajar bantal dan gulingnya dengan lebih sadis. Bagh-bugh…. Bagh-bugh!
“PANGERAN GADUNGAN! AKU BENCI KAMYUUUU….!”
Di dapur, si Enyak yang lagi tidur siang, sampai terbangun dan buru-buru melompat ke kamar Cathy, mengira putrinya kesurupan jin di gang buntu samping kuburan.
***
Pagi yang cerah mengiringi langkah Cathy menyambut hari yang paling dinanti. Hari pembagian rapor. Cathy tetap yakin kali ini dia masih tak akan terkalahkan. Termasuk oleh makhluk paling menyebalkan yang bernama Pangeran Diponegoro.
Ah, Pangeran Diponegoro. Kadang secara nggak sadar Cathy sering kali merindukannya. Tapi, sejak peristiwa surat nyasar itu, sikap sang Pangeran sepertinya sudah berubah.
“Ngapain gue mikirin dia lagi, sih?” Cathy menggerutu sendiri.
Orang yang dipikirkannya melintas dengan anggun sambil tersenyum. Cathy jadi salah tingkah sendiri.
Di kelas, Cathy pun terus memperhatikan sang Pangeran yang maju ke meja guru untuk mengambil rapornya. Cathy juga sempat melihat senyum bahagia di bibir sang Pangeran saat membuka  rapor. Malihat itu, perasaan Cathy mendadak jadi parno sendiri. Jangan-jangan sang Pangeran berhasil menyabotase posisinya selama ini. “No, Way! Nggak rela!  Nehi-nehi lah yaw!”
“Siti Hilton!”
Cathy lumayan kaget saat mendengar namanya disebut oleh wali kelas. Tangannya gemetar saat membuka rapor. Perasaannya campur aduk mengetahui peringkat yang tertulis di sana.
“Rangking Pertama….” Gumamnya dengan mata berbinar.
Bukan baru pertama kali ini Cathy meraih prestasi tertinggi di kelas. Tapi, entah kenapa dia merasa rangking yang diraihnya semester ini membawa nuansa berbeda di hatinya. Nuansa yang nggak bisa dilukiskan dengan kalimat.
Saat Cathy kembali ke tempat duduk, dia mendapati sebuah kertas terlipat di mejanya. Langsung dia buka:
“Ada Orang Bijak Berkata:
….. Jangan Berjalan di Depanku, Aku Mungkin tak dapat Mengikuti,
Jangan Berjalan di Belakangku, Aku Mungkin tak dapat Memimpin,
Tapi, Berjalanlah seiring bersamaku. Jadilah Sahabatku.
Pangeran Diponegoro.”

Cathy menoleh ke tempat duduk Pangeran Diponegoro. Dilihatnya sang Pangeran sedang tersenyum sambil mengacungkan dua jempol padanya.
Dan, tidak ada alasan baginya untuk tidak membalas senyuman itu.
(Dimuat di STORY, teenlit magazine.  Edisi 19/ Th. II/ Februari - Maret 2011)


Senin, 01 Oktober 2012


Antara ‘Kebebasan berekspresi’ atas nama HAM versus Pelanggaran Privasi ala Barat?




Sejak cuplikannya beredar di youtube awal Juli lalu, film amatir berjudul Innocence of Muslims garapan sutradara amatir, Sam Bacile, terus mendapat protes keras di seluruh dunia. Bagaimana tidak? Dalam film berdurasi sekitar 2 jam  itu, Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai seorang penipu (mengarang Alquran dan mengaku sebagai nabi). Rasulullah SAW juga dianggap sebagai pria hidung belang (banyak istri, gundik dan budak seks). Selain itu, Al-Ma’shum SAW dan juga digambarkan sebagai seorang pedofil (Penyuka seks terhadap anak kecil) dengan menikahi Siti Aisyah r.a, putri Abu Bakar As-Shiddiq r.a, yang masih berusia 6 tahun.
Gelombang protes bermunculan di seluruh dunia. Tidak hanya dari umat Islam, masyarakat non-muslim pun turut menyampaikan kecaman atas film itu. Beberapa negara –termasuk Indonesia- memang telah memblokir akses film itu. Namun ironisnya, Amerika Serikat (AS), negara tempat film itu dibuat– dengan dalih kebebasan berekspresi- mengganggap Innocence of Muslims sebagai sebuah karya ‘legal’, seperti film-film lain.
Belum reda kontroversi yang ditimbukan oleh Innocence of Muslims, Sebuah majalah di Prancis turut menebar provokasi dengan memuat karikatur Nabi Muhammad SAW.
Protes semakin meluas. Menuntut AS dan Barat mengambil tindakan tegas. Beberapa bahkan berlangsung ricuh, karena AS keukeuh melindungi Sam Bacile CS. AS bahkan mengecam  protes yang disampaikan oleh umat Islam dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang berlebihan.


Masih di Barat, di bulan September 2012, majalah Closer yang beredar di Prancis memuat beberapa foto Kate Middleton, Istri dari Pangeran William, saat tidak berbusana, di teras  sebuah villa milik keponakan Ratu Elizabeth di Prancis.
Atas pemuatan dan publikasi foto ini keluarga Kerajaan Inggris pun menggugat fotografer majalah Closer yang mengambil foto bugil tersebut, karena dinilai telah melanggar privasi mereka. 
Berdasar gugatan yang diajukan oleh Kerajaan Inggris, Pengadilan Komune (semacam kota) Nanterre memutuskan bahwa majalah gosip itu bersalah. Atas pelanggaran tersebut, Closer diharuskan membayar denda EUR 2.000 (sekitar Rp 24,8 juta).
Selain menjatuhkan denda, pengadilan juga melarang publikasi foto tersebut. Seluruh foto asli Kate yang dimiliki majalah Closer disita. Terutama, foto-foto pribadi istri Pangeran William itu. 

Pertanyaannya adalah…. 

Jika Kate Middleton boleh marah karena merasa privasinya diusik oleh majalah Closer -dan pengadilan Barat mendukung- mengapa umat Islam dilarang memprotes Innocence of Muslims yang telah terangan-terangan menghina Rasulullah SAW yang mulia? Bukankah hal ini menunjukkan bahwa AS dan Barat yang selama ini selalu menggembar-gemborkan kebebasan dan Hak Asasi Manusia, telah melanggar HAM itu sendiri? Wallahu ‘alam.

Halaman Ibnu Shalih © 2013 | Powered by Blogger | Blogger Template by DesignCart.org